Pages

Subscribe:

Jumat, 09 November 2012

Hikmah


Belum lama ini, saya mengalami kecelakaan. Sebuah motor menerobos lampu merah dan menabrak mobil saya yang kebetulan melintas di perempatan jalan. Si pengendara langsung jatuh tidak bergerak, sedangkan penumpang boncengannya mental entah kemana. Dalam kepanikan tersebut, saya tetap berusaha tenang. Saya bawa mereka ke rumah sakit dan mereka langsung dilarikan ke UGD. Untungnya tidak ada yang membahayakan nyawa, hanya patah tulang dan luka saja.

Di sini saya mau membahas banyak hal. Pertama, hukum perdata Indonesia. Di TKP, ada polisi Sabhara yang menahan SIM dan STNK saya. Polisi Sabhara tidak berhak menahan STNK, terlebih ketika polisi itu bermasalah dan jahat. Memfitnah dan berusaha memeras saya.Walaupun jelas-jelas saya yang ditabrak, masa tetap menghakimi saya dan menunding saya yang bersalah. Mengapa hukum tidak tertulis di Indonesia selalu menyalahkan pengendara mobil walaupun pengendara motor yang terkadang melanggar peraturan lalu lintas?

Uang bukan masalah, asal nyawa selamat. Saya bukannya keberatan membayarkan biaya berobat korban, tapi kok rasanya gak adil ya? Terlebih ketika mereka malah ngelunjak datang ke rumah saya dan meminta dana lebih. Loh, sudah dibantu kok malah gak tau diri? Tidak berhenti sampai di sana, paman saya yang tadinya saya pikir membantu saya malah menjerumuskan juga. Menipu dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ini dengan bekerja sama dengan si korban untuk memeras saya.

Long story short, musibah yang menimpa saya kemarin itu membuka mata saya. Malam itu mengubah hidup saya. Saya jadi tahu siapa orang yang ada untuk saya saat saya benar-benar membutuhkan mereka dan siapa yang tidak. Keluarga sangat membantu, tapi nyatanya tidak semua anggota keluarga menganggap kita bagian dari keluarganya. Kecewa? Jelas. Tapi lebih dari itu, walaupun kami tidak pernah terlalu dekat, saya tahu orang tua saya sangat sayang pada saya. Begitu pula sebaliknya.

Dan seseorang yang selalu menjaga saya, walaupun sudah saya sakiti sedemikian rupa... Dia ada untuk saya disaat semua orang hanya sebatas iba. Dia melakukan hal yang jauh lebih berarti daripada yang sahabat saya pernah lakukan selama bertahun-tahun. Saat itu saya tahu siapa yang benar-benar mengasihi saya dan siapa yang hanya meninggalkan janji-janji manis.

Lewat peristiwa ini, banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Betapa uang membutakan mata manusia. Betapa kepercayaan begitu mudah dikoyak. Betapa kata manis hanya cuma sekedar bualan belaka. Betapa mudah ketamakan menyelimuti hati pemiliknya. Betapa kemunafikan begitu banyak disekitar kita. Tapi diatas semua itu, saat kita berada di lubang gelap... Betapa bersyukurnya saat ada tangan yang terulur menggendong kita keatas. Bukan menarik atau memapah... Tapi menggendong semua beban hingga tak perlu kita bersusah payah merangkak. Saya seseorang yang beruntung mengenal mereka. Karena pemilik tangan-tangan itu, akan tetap tinggal segelap apapun dunia ini nantinya.



Silvia Arnie

Jumat, 29 Juni 2012

Duka Sang Bunda

Tunggu!
Sesaat, berikan aku waktu.
Untuk merelakan masa lalu...

Karena langkah ini terasa berat
Dan napas ini terhembus serat
Karena raga ini tengah tercekat
Dan air mata ini tak mengering kesat

Sebentar!
Sejenak, berikan aku ruang.
Untuk melepas yang terkenang...

Karena paru-paruku sesak.
Atas angkara yang membuaku muak.
Karena batinku terkoyak.
Atas hati kecil yang memberontak.

Berhenti!
Selamanya, berikan aku dimensi.
Untukku mempersembahkan jiwa...

Karena sudah kuselami sampai ke dasar laut
Hingga tak ada tempat untukku bertaut
Karena buah hatiku tengah terenggut
Hingga tak berkesudahan duka yang kalut...




Kamis, 28 Juni 2012

Kecantikan abadi

Secantik mimpi,
Wajah yang terpahat sempurna.
Membuat para dewi kahyangan iri
Pada keindahan murni gadis sederhana

Berendam di bawah sinar keemasan
Hampir hanyut dibelai angin sepoi.
Rambut yang bercengkrama dengan ilalang
dan bibir yang lembab mengecup embun

Tapi mentari itu telah tenggelam
Meninggalkan bayangan cahaya merah
Terpantul dari kulit putih sepucat salju
Menyambut hangat datangnya rembulan

Jangkrik menyanyikan pengantar tidur
Kepik kecil menari mengelilingi jemari
Burung bubul bersiul menyemangati hati
dan katak berdansa menutup hari

Berbaring, terlentang...
Raga rebah seakan tak bernyawa

Membungkam, terpejam...
Damai datang menyelimuti jiwa

Tanah dibawah punggungnya tengah basah
Hijau rumput berubah merah
Gadis cantik yang bersimbah darah,
Tertidur dalam mimpi abadi yang indah...

Rabu, 23 Mei 2012

Draft

Sudah lama gak menulis, ketika memulai lagi rasanya jadi sedikit kaku. Banyak kata dan kalimat yang diulang-ulang. Tapi rindu sekali ketika saya mulai terlibat emosi dengan si tokoh dan terhanyut dalam dunia yang saya bikin sendiri. Kadang, saking terhanyutnya, kita jadi subjektif dan membawa sifat kita ke para tokoh. Akibatnya, jalan cerita jadi melenceng dan melebar kemana-mana. Supaya gak begitu, ada beberapa panduan menulis yang bisa kamu gunakan:

1. Buatlah plot awal.
Plot itu penting sekali untuk menjadi pemandumu kalau-kalau ceritamu melebar kemana-mana. Buat alur cerita yang jelas secara keseluruhan, jadi kamu gak bingung bagaimana mengakhiri cerita yang kamu tulis.

2. Buat tema per bab
Setelah kamu tau cerita apa yang mau kamu tulis, kamu boleh memisahkan cerita itu per bab. Misalkan kamu mau menulis tentang cewek jelek yang jadi cantik. Contohnya:
Bab 1; pengenalan tokoh yang selalu di perpustakaan.
Bab 2; tokoh utama bertemu dengan kapten basket secara tidak sengaja di kafetaria.
Bab 3; tokoh utama ditindas oleh kapten cheerleader.
Dst...
Dengan dipisahkan begitu, kamu akan jauh lebih mudah mengembangkan cerita.

3. Tentukan karakter
Setelah kamu menuliskan rangkaian per bab, saatnya kamu menamai tokoh-tokoh mu dengan karakter mereka. Karakternya harus jelas, jangan sampai saru satu dengan yang lain. Kalau bisa, karakter tokoh utama paling menonjol. Buatlah tokoh utama dicintai pembaca walaupun dia mempunyai sifat buruk, tapi saranku jangan dibuat terlalu perfect, karena pembaca akan mudah bosan. Karakter yang kuat akan memudahkan kamu membawa alur cerita. Oh ya, saranku jangan terlalu banyak membuat tokoh, karena nanti kamu akan bingung sendiri.

4. Fokus pada hal-hal yang penting
Kalau semua sudah kamu lakukan, saatnya kamu mengembangkan naskah. Saat kamu menulis, jangan lupa tetap fokus dengan jalan cerita. Detail itu bagus, tapi tidak perlu terlalu detail hingga membuat pembaca jadi pusing. Bisa juga detail-detail itu malah membuatmu menyimpang dari jalan cerita yang telah kamu plot. Detail yang kurang penting bisa dikurangi atau ditiadakan.

5. Revisi
Yang tidak kalah penting adalah revisi. Saya sering sekali melakukan revisi hingga naskah kayanya gak selesai-selesai. Kadang mood saat kita menulis kemarin dan hari ini berbeda, jadi kalau ada waktu baca ulang lagi apa yang sudah kamu tulis kemarin-kemarin. Saat kamu revisi, kamu akan sadar apakah kamu menyimpang dari jalan cerita atau tidak. Tidak perlu terlalu sering seperti saya, mungkin beberapa bab sekali perlu di revisi ulang. Revisi juga tidak perlu dari awal, tapi bisa berkesinambungan. Tapi saat kamu menyelesaikan naskah, kamu HARUS merevisi dari awal lagi.

Mudah kan? Sekarang ceritamu pasti tidak akan melenceng kemana-mana. Jangan lupa untuk menaruh emosi di tulisanmu, karena setelah diuraikan begini kadang beberapa orang malah jadi sedikit kaku tulisannya dan "dipaksakan". Jadi emosi itu penting sekali untuk membawa mood pembaca. Setelah selesai, jangan lupa dikirim ke penerbit ya... :)


Good luck!

silvia arnie

Jumat, 18 Mei 2012

Sahabat

15 Mei kemarin, usia saya bertambah lagi satu tahun. Introspeksi diri, sekali lagi melihat ke belakang... apa sih yang sudah saya lakukan sepanjang tahun-tahun kemarin? Rasanya kok masih stuck saja ya?

Dulu waktu masih sekolah, saya selalu berharap cepat-cepat lulus dan menjadi dewasa. Sekarang setelah ada di sini, rasanya pengen balik lagi. Well, waktu gak akan bisa terputar kembali.. Untungnya, saya kembali tercemplung dalam sebuah komunitas yang saya rindukan: Teman-teman SMA. Sedikit banyak, saya kembali teringat dengan diri saya yang dulu, yang sok idealis dan sok beda. hahaha.. Dipikir-pikir, sekarang saya sudah menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Salah satu dari komunitas geng SMA saya adalah sahabat saya dulu. Dulu, was. Lalu kami renggang karena teman-teman baru, dan akhirnya pencar karena sifat jelek masing-masing. Kita bukannya ribut besar dan berantem karena sesuatu hal, tapi memang terpisah karena masing-masing sudah punya hidup sendiri. Saya selalu menyesali itu. Butuh hampir lima tahun untuk bisa hang out bareng lagi. Walau sekarang kembali dekat, tapi dia bukan lagi sahabat terdekat saya. Saya masih merasa asing kalau kumpul bareng mereka, karena mereka dekat dari SMA dan saya baru kembali 'hadir' setelah lulus kuliah. Tapi saya bersyukur mereka kembali dalam hidup saya. Right now, it's my greatest gift.

Setelah lulus, rasanya sulit sekali mendapatkan seorang sahabat. Sahabat-sahabat saya sekarang mulai sibuk dengan pekerjaan dan pacarnya. Bukan salah mereka, memang umur kami memang sudah pantas untuk mulai serius dengan hal-hal itu. Walau hari-hari biasa gak terasa, ternyata kalau dipikir-pikir sepi juga. Kalau dulu hampir setiap hari bertemu, sekarang mungkin seminggu atau bahkan sebulan sekali.

I'm lucky enough to meet them, to have them in my life. Walau saya bertemu dengan sahabat baru, teman-teman baru, komunitas baru, tapi saya bertahun-tahun menyesal karena renggang dengan sahabat saya yang dulu itu. Bayangkan, alangkah menyenangkannya kalau saya memiliki semuanya di sekitar saya. Mungkin saya tidak akan pernah merasa kesepian.

So, guyss... Hold on to your friends. Jangan buang-buang waktu untuk ribut gak penting, jangan juga lupa menyapa atau sekedar menelpon sahabatmu karena sibuk. Karena saat kamu sadar, ternyata it's been five years! Dan waktu gak bisa terputar kembali. Jadi jangan sampai menyesal, karena mungkin kamu tidak akan seberuntung saya yang mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatmu lagi. :)



Cheers,

silvia arnie.